RIAUBOOK.COM - CEO PSM Makassar, Munafri Arifuddin buka suara terkait wacana pemakaian wasit asing di Liga 1 oleh PSSI dan operator kompetisi, PT Liga Indonesia Baru. Jika hal itu terwujud maka, pihaknya akan memberikan dukungan penuh.
"Wacana ini menarik sekaligus tamparan buat wasit lokal," ujar Munafri seusai menyaksikan latihan reguler tim Juku Eja di Stadion Andi Mattalatta Mattoangin, Makassar, Kamis (20/7/2017).
Menurut Munafri, dengan munculnya wacana itu berarti ada dua kesimpulan yang bisa ditarik yakni kualitas wasit Indonesia jelek dan jumlahnya tidak banyak. "Saya berharap kalau wacana ini terwujud, wasit lokal sebaiknya menerima dan belajar," tegas Munafri.
Munafri menambahkan sepanjang pengamatannya banyak keputusan aneh yang dibuat oleh wasit lokal saat memimpin pertandingan di Liga 1.
"Mungkin wasitnya tidak bermaksud merugikan tim yang bertanding. Tapi, kurang jeli saja dalam mengambil keputusan," papar Munafri.
Di lain pihak, Munafri melontarkan kritik terhadap Komisi Disiplin yang terkesan arogan dalam mengambil keputusan. Dia merujuk sanksi teranyar yang diterima PSM yang melibatkan Robert Alberts, Hamka Hamzah, dan panpel Makassar.
"Komdis langsung membuat keputusan tanpa memanggil pihak yang terkait. Sebaiknya, kami dipanggil dulu sebelum membuat keputusan," tegas Munafri.
Sebelumnya Komdis menjatuhkan sanksi berupa denda uang Rp 10 juta kepada Robert yang dinilai melakukan protes berlebihan saat PSM dijamu Persib pada pekan ke-12.
Sementara Hamka mendapat sanksi larangan tampil dua partai plus denda Rp 75 juta karena dinilai melakukan tindakan provokatif dengan mengacungkan jari tengah ke bobotoh Persib.
Terakhir, panpel PSM diganjar Rp 15 juta karena dianggap lalai menjalankan tugas sehingga ada oknum suporter yang masuk ke area lapangan dan melakukan tindakan provkatif kepada kubu Bhayangkara FC. (RB/Bola)
Follow News : Riau | Kampar | Siak | Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul | Berita Riau



Riau Pesisir: Merancang Garis Depan Kemakmuran
SAYA menulis catatan ini bukan dari ruang seminar, tapi dari jalan lintas ke Dumai yang hampir tiap pekan saya lewati.…