#Politik Riau Beda. Kondisi ini terbukti dengan banyaknya prediksi yang melenceng hingga mencuatkan gambaran 'mentahnya' para politisi di Bumi Melayu.
Pentas politik Pilgub Riau seperti telah 'patah tebu', sulit untuk menggambarkan siapa pemenang pada 'pesta' 27 Juni nanti mengingat sulitnya untuk memetakan wilayah kemenangan dari masing-masing pasangan yang bertarung berebut 'tahta' Gubernur Riau.
Sebut saja petahana, pasangan Arsyadjuliandi Rachman - Suyatno (AYO). Secara garis besar, partai utama yang mengusung pasangan ini, Golkar, memang memiliki basis yang kuat karena kader partai beringin 'mengakar' di sejumlah kabupaten/kota.
Seperti Amril Mukminin, saat ini menjabat sebagai Bupati Bengkalis, kemudian Bupati Indragiri Hilir (Inhil) HM wardan dan Yopi Arianto yang masih menjabat Bupati Indragiri Hulu (Inhu).
Kader Golkar lainnya yang menjabat kepala daerah adalah Suparman namun kini telah dinonaktifkan setelah tersangkut kasus korupsi.
Kekuatan 'beringin' kemudian diperkokoh oleh partai koalisi PDI Perjuangan yang jelas merupakan 'induk samang' dari Suyatno, bakal calon wakil petahana yang sekarang menjabat Bupati Rokan Hilir (Rohil).
Dua partai besar yang memiliki total 23 kursi (Golkar 14, PDIP 9 kursi), kemudian bertambah 'sehat' dengan munculnya dukungan Hanura yang menambah 2 kursi legislatif.
Dengan demikian, ada 25 orang anggota DPRD Riau yang berasal dari berbagai wilayah kabupaten/kota di Riau yang masuk dalam mesin politik tiga partai tersebut.
Walau tersudutkan oleh banyak lembaga survei, namun Petahana diprediksi tetap menjadi paslon dengan peluang menang lebih besar dengan pertimbangan partai yang mengakar, kekuasaan yang luas serta dukungan logistik yang memadai.
Mesin politik dari pasangan 'AYO' memang luar biasa 'tenaganya', mampu mencapai kecepatan tinggi jika semuanya bekerja secara maksimal, namun medan politik yang harus dijalani tidak begitu mulus.
Motor Baru
Sementara Syamsuar, kader Golkar terbuang, sebelumnya telah memilih untuk membeli 'motor baru' hingga mendapatakan tiga partai, yakni PAN, PKS dan NasDem.
Sebagai penunggang motor, Syam yang saat ini menjabat sebagai Bupati Siak tentu membutuhkan 'mekanik' andal agar mesin mampu memberikan kecepatan maksimal.
'Mekanik' andal itu adalah Brigjen TNI Edy Natar Nasution. Sebagai seorang Danrem 031/Wira Bima, Edy tentu memiliki pengalaman cukup dalam strategi politik internasional, dan ketika pengalaman itu di bawa ke daerah, akan menjadi lebih muda.
Pasangan ini disebut sebagai pasangan yang ideal karena cukup dengan 13 kursi mereka raih dari PAN (7 kursi), kemudian PKS dan NasDem masing-masing 3 kursi untuk kemudian siap 'menjajal' medan politik menuju Pilgub Riau.
Dengan melajunya pasangan ahli strategi dari kader terbuang, maka laju motor Golkar bersama team PDIP dan Hanura terancam bakal mengalami gangguan di medan yang berat.
Gangguan mesin Golkar dapat terjadi kapan saja karena Syam memiliki kekuasaan di Siak, pengalaman berpolitik saat di Golkar, dan dukungan dari kader birokrat yang saat ini menyusup di berbagai elemen pemerintahan.
Ditambah satu mekanik yang memiliki kekuatan strategi politik berimbang. Edy Natar juga merupakan putra Riau asal Bengkalis yang siap memecah suara di wilayah Amril Mukminin.
Kemudian satu kader PAN sebagai partai pengusung pasangan Syam-Edy, Irwan Nasir, saat ini adalah Bupati Kabupaten Kepulauan Meranti.
Sementara satu petinggi NasDem Riau, Zulkifli AS, saat ini juga merupakan Wali Kota Dumai, kemudian ada Ayat Cahyadi saat ini adalah Wakil Wali Kota Pekanbaru.
Dan yang tidak disangka, Rokan Hulu (Rohul) yang sebelumnya sempat dipetakan sebagai daerah kemenangan petahana, kini juga bisa pecah akibat kader Golkar yang menjabat bupati di daerah itu, Suparman telah lengser akibat kasus korupsi.
Tinggal Sukiman, seorang purnawirawan TNI yang saat ini menjabat sebagai pelaksana tugas (plt) Bupati Rohul yang dipresiksi akan berada di posisi netral.
Dengan demikian, kehadiran pasangan Syam-Edy diprediksi akan memecah suara petahana di Bengkalis, Pekanbaru dan Rohul, namun akan mendominasi kemenangan di 3 wilayah seperti Siak, Dumai, dan Meranti.
Motor Lama
Ancaman petahana juga datang dari pasangan mengejutkan. Mereka adalah Firdaus-Rusli Effendi.
Firdaus merupakan kader Partai Demokrat yang sempat tersisihkan setelah Ketua DPW Asri Auzar lebih mempromosikan diri untuk maju membawa motor partai berlambang mercy.
Namun secara tiba-tiba, Firdaus mengumumkan diri akan tetap maju dengan di dampingi Rusli Effendy selaku petinggi DPP PPP disusul dengan dukungan resmi dari partai berlambang Ka'bah untuk pasangan Firdaus-Rusli.
Seperti kembali membeli 'motor lama', Firdaus pun akhirnya berhasil merebut Demokrat hingga pasangan ini memiliki total 14 kursi (9 Demokrat dan 5 PPP) dan mampu ikut dalam arena Pilgub Riau.
Pasangan Firdaus-Rusli dengan motor lamanya juga bakal memecah suara di sejumlah wilayah yang telah dipetakan menjadi basis kemenangan petahana seperti Kabupaten Kampar.
Hadirnya Rusli di sisi Firdaus seakan membelah 'tubuh' Bupati Kampar Azis Zainal yang sebelumnya maju di daerah itu dengan dukungan Golkar dan PPP.
Dalam perjalanan politik nanti, pasangan Firdaus-Rusli diprediksi juga akan mendominasi suara di wilayah Kampar dan Pekanbaru yang merupakan basis kekuasaan Firdaus.
Kemudian juga akan mengusai suara di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) mengingat Bupati Mursini juga kader PPP.
LE-Hardianto
Lukman Edy (LE) merupakan putra Indragiri Hilir (Inhil) yang pernah menjadi menteri di era Presiden SBY.
Koalisi PKB-Gerindra mempertemukan LE dengan legislator Riau Hardianto.
Keduanya juga akan 'mengoyak' kantung suara di daerah yang merupakan salah satu basis petahana, saat ini dikuasai satu kader Golkar, HM Wardan, bupati di daerah itu.
Pasangan LE-Hardianto telah membentuk mesin yang sehat dan setidaknya akan mampu mendominasi kemenangan di Kabupaten Inhil dan memecah kantung-kantung suara di sejumlah kabupaten/kota lewat program dana desa yang menggiurkan para kades.
Hal tersebut menyimpulkan, politik Pilgub Riau yang akan dilaksanakan pada 27 Juni mendatang bakal menghasilkan suara yang sulit untuk diprediksi atau patah tebu.
Masing-masing calon akan mengintari motor mereka di basis kemenangan mereka sendiri yang menyebabkan kantung-kantung suara pecah.
Setiap paslon memiliki peluang menang dengan persentase yang nyaris sama, pengumpulan suara yang maksimal tergantung dari sejumlah hal; seperti memanfaatkan kekuasaan atau 'coercive power', serta pergerakan maksimal mesin partai dan relawan.
Siapapun yang terpilih, semoga nanti akan mencapai 'effective leadership' untuk mewujudkan kemajuan bagi Provinsi Riau.
Oleh Fazar Muhardi


Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…