RIAUBOOK.COM, JAKARTA - Tindakan tegas Indonesia yang menunjukkan taring dengan segera mengirim kembali delapan kontainer sampah ke Australia, berbobot 210 ton menjadi sorotan dunia.
Limbah yang dimaksud adalah sampah kertas yang terkontaminasi oleh limbah elektronik, kaleng bekas, botol plastik, botol oli, dan sepatu tak layak. Beberapa bahkan tergolong sebagai Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).
Langkah berani Indonesia itu telah disorot oleh sejumlah media internasional. Sebagian besar melihatnya sebagai bagian dari langkah negara-negara Asia Tenggara memperlihatkan taring kepada dunia: tak ingin dianggap sebagai tempat sampah.
Sebuah artikel di The Guardian yang berjudul "Indonesia sends rubbish back to Australia and says it's too contaminated," yang dikutip Selasa (9/7/2019) adalah salah satunya.
Mengawali pembahasan, para pewarta yakni Kate Lamb dan Adam Morton menceritakan tindakan petugas bea cukai RI saat memeriksa sampah impor di Tanjung Perak, Surabaya.
Pada bagian selanjutnya, Lamb dan Morton menghubungkan langkah Indonesia dengan tindakan Malaysia dan Filipina. Memang kedua negara tetangga itu memiliki nasib sama dengan RI: menjadi tujuan sampah impor, khususnya pasca-China melarang impor limbah plastik dari asing.
Kedua pewarta juga menyinggung sikap RI sebelumnya: mengirim kembali 49 kontainer penuh limbah ke Prancis dan negara-negara maju lain. Adapun sebagai pamungkas, Lamb dan Morton menyebut Indonesia tengah memiliki masalah domestik yang memang cukup besar untuk dihadapi.
Singapura Menyorot
Selain The Guardian, dua portal berita daring berbasis di Singapura tak ketinggalan turut membahas isu tersebut. Channel News Asia (CNA) mewartakan hal senada dengan The Guardian dengan perbedaan pada bagian akhir CNA yang menyinggung pencemaran plastik yang menyumbat sungai-sungai di Asia Tenggara.
Selain itu, juga adanya laporan tentang makhluk laut mati yang ditemukan di dekat lokasi tersebut.
Satu outlet berita lagi yang bermarkas di Negeri Singa, The Straits Times, juga menyoroti langkah RI. Di bagian akhir, media itu menggarisbawahi masalah global di mana sekitar 300 juta ton plastik diproduksi tiap tahunnya.
Surat kabar elektronik itu mengutip data dari Worldwide Fund for Nature (WWF), menambahkan bahwa sebagian besar berakhir di tempat pembuangan sampah atau mencemari laut.
Media Australia
Sebuah media kaliber Australia, ABC turut mewartakan limbah sampah yang ditendang balik ke Negeri Kanguru oleh RI. Artikel itu berjudul "Indonesia to send back Australian paper waste 'contaminated' by dirty nappies and electronics".
ABCÂ mengatakan, pejabat pabean RI mengirim delapan kontainer kertas ke Australia yang turut termasuk popok bekas dan barang elektronik.
Hal yang berbeda dari berita sebelum-sebelumnya, ABC mengatakan pihak berwenang di beberapa pulau termasuk Jawa, menemukan sejumlah limbah telah diekspor secara sah.
Pabrik yang tidak dapat menggunakan plastik, kemudian menjualnya ke pabrik tahu sebagai bahan bakar pemanggangan.
Sayangnya, menurut ABC, asap itu jika dimanfaatkan dengan cara dibakar akan menghasilkan asap beracun yang menyebabkan masalah pernapasan dan mencemari saluran air setempat.
Sumber Liputan6


Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…