RIAUBOOK.COM - Sentimen global memicu penguatan rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan pasar spot.
Senin (10/12/2019) pagi, rupiah tercatat bertengger ke Rp 13.995 per dolar ASÂ atau menguat sebesar 0,11 persen.
Meski menguat pagi ini, Kepala Riset PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menilai sentimen global kesepakatan dagang antara AS dan China yang belum jelas juga berpotensi terhadap pelemahan rupiah.
Menurut Ariston, pasar masih menantikan kejelasan perkembangan negosiasi dagang AS dan China.
"Hingga saat ini belum ada kepastian apakah AS dan China bersepakat. Pasar mewaspadai kalau-kalau AS dan China malah tidak jadi bersepakat," kata Ariston, Selasa (10/12/2019).
Ariston kemudian mengatakan, apabila AS menerapkan tarif baru kepada China pada tanggal 15 Desember nanti, maka akan merupakan sinyal negatif bagi kesepakatan dagang kedua negara.
Untuk diketahui, meski pagi ini rupiah mengalami penguatan, sentimen global malah membuat mata uang di negara-negara Asia mengalami pelemahan.
Won Korea terpantau melemah 0,12 persen, yen Jepang 0,07 persen, dolar Singapura 0,04 persen, dan ringgit Malaysia 0,03 persen diikuti baht Thailand yang melemah tipis 0,01 persen.
Penguatan hanya terjadi pada lira Turki dan dolar Taiwan dengan nilai sebesar 0,02 persen, sementara dolar Hong Kong berada di posisi stagnan dan tak bergerak terhadap dolar AS.
Sementara di negara maju, mayoritas nilai tukar bergerak bervariasi terhadap dolar AS.
Dolar Kanada Terpantau melemah tipis 0,01 persen, sementara poundsterling Inggris dan euro masing-masing berada di posisi stagnan.
Penguatan hanya terjadi pada Dolar Australia sebesar 0,06 persen terhadap dolar AS.
Sumber: CNN Indonesia


Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…