Riau Book - Untuk menggalakkan Pekan Imunisasi Nasional , Pemerintah Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, mulai mensosialisasikan pelaksanaan pekan imunisasi nasional (PIN) polio ke masyarakat setempat melalui media, kader posyandu, puskesmas, dan tenaga kesehatan.
"Walau pelaksanaan imunisasi polio baru akan dilakukan 8-15 Maret, tetapi Pekanbaru sudah mulai mensosialisasikannya," ungkap Wali Kota Pekanbaru, Firdaus. di Pekanbaru, saat acara imunisasi bulanan di posyandu Mawar Mekar RW 01, Kecamatan Payung Sekaki, Februari 2016.
Firdaus menjelaskan, PIN polio akan dilaksanakan pada bulan Maret 2016 dengan sasaran semua anak usia 0- 59 bulan tanpa memandang status imunisasinya.
Sedangkan tempat pemberian imunisasi dilaksanakan di posyandu, polindes, poskesdes, puskesmas, puskesmas pembantu, klinik swasta dan rumah sakit serta pos pelayanan imunisasi lainnya di bawah koordinasi Dinas Kesehatan Pekanbaru.
Firdaus pada kesempatan tersebut mengajak stagholder, masyarakat, khususnya kaum ibu agar mensukseskan PIN polio yang akan diselenggarakan secara serentak diseluruh Indonesia.
Firdaus mejelaskan bahwa program pemerintah pusat ini perlu didukung dan disukseskan hingga menyasar semua balita.
"Imunisasi polio bukan barang baru lagi, dulu juga sudah dilakukan," urainya.
Namun sekarang pemerintah menilai masih perlu dilakukan guna memberantas virus polio bagi generasi bangsa.
"Jadi mari kita sukseskan," ajaknya.
Berdasarkan petunjuk teknis PIN polio, Kementerian Kesehatan RI tahun 2015, disebutkan bahwa imunisasi merupakan upaya pencegahan yang terbukti sangat "cost effective". Banyak kematian dan kecacatan yang disebabkan oleh penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.
Sementara gerakan eradikasi polio secara global akan memberi keuntungan secara finansial. Tidak akan ada lagi anak-anak yang menjadi cacat karena polio sehingga biaya yang diperlukan untuk rehabilitasi penderita dan biaya untuk imunisasi dapat dikurangi.
Pengertian PIN polio adalah pemberian imunisasi tambahan polio kepada kelompok sasaran tanpa memandang status imunisasi yang dilakukan berdasarkan hasil evaluasi program dan kajian epidemiologi.
Tujuan umum PIN untuk tercapainya eradikasi polio di dunia pada akhir tahun 2020
Sementara itu menurut Kepala Bidang Promosi, Diskes Pekanbaru Fachriani Putri , Sebanyak 107.000 balita di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau akan diimunisasi ulang polio pada tanggal 8-15 Maret 2016 saat program Pekan Imunisasi Nasional digelontorkan.
"Siapapun bayi usia 0-59 bulan tanpa mengindahkan status diimunisasi atau belum wajib diberikan vaksin polio saat itu," ungkap, , Senin, di Pekanbaru.
Fachriani Putri, menjelaskan program PIN polio tahun ini bertujuan mengeradikasi (memusnahkan) penyakit polio di Indonesia pada tahun 2020.
"Maka dilakukan serentak secara nasional dalam kurun waktu yang sudah ditentukan diatas," bebernya.
Tindak lanjutnya didaerah melalui Dinas kesehatan dilakukan gerakan untuk mensosialisasikan vaksinasi polio ini. Agar semua orangtua yang memiliki bayi dan balita bisa mengetahuinya dan datang ketempat yang sudah ditentukan pada tanggal tersebut.
"Kami juga akan sebar informasi ini lewat media, brosur, spanduk yang di pasang pada posyandu, polindes, poskesdes, puskesmas, puskesmas pembantu, klinik swasta dan rumah sakit serta pos pelayanan imunisasi lainnya di bawah koordinasi Dinas Kesehatan Pekanbaru," terangnya.
Tujuannya agar dapat menjaring semua bayi dan balita untuk mendapatkan vaksin polio.
Ia juga berharap para orangtua tidak perlu khawatir akan vaksin polio ini. Karena fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) no 4 tahun 2016, sudah menyatakan halal.
Diakuinya Indonesia saat ini sudah bebas polio, namun karena ini merupakan program WHO, untuk mencegah virus polio berjangkit dari negara lain maka dilakukan sekali lagi.
Sekedar informasi tahun 2005 terjadi KLB polio di Indonesia total kasus polio liar adalah 305 di 47 Kabupaten/Kota dalam 10 provinsi.
Adapun kasus terakhir di Aceh Tenggara yang terjadi pada tanggal 20 Februari 2006. Meskipun sudah tiga tahun tidak ditemukan kasus polio liar, berdasarkan survailans kasus AFP meningkat dari 1,26 pada tahun 2004 menjadi 2,44 pada tahun 2005 dan 2,46 tahun 2006.
Dari laporan AFP tahun 2006 sampai 2009 menunjukan bahwa persentase penderita yang tidak menerima imunisasi polio dan imunisasi polio tidak lengkap cenderung meningkat.
Berdasarkan kondisi ini diperlukan kewaspadaan dan upaya pencegahan kemungkinan berulangnya KLB polio. (RB/adv)
Follow News : Riau | Kampar | Siak | Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul | Berita Riau



Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…