Cerita Lama Tentang Orang-orang Cina Makassar

Lampion Merah Koh Edy

Riau Book - (Tulisan Bang Tomi Lebang ketika tahun baru Cina Imlek 2016, namun masih relevan untuk kembali ditampilkan pada imlek tahun. Perubahan dilakukan pada tahunnya saja).

Tahun Baru Cina Imlek tiba. Lampion merah di mana-mana, angpao bertebaran, doa-doa menolak bala dan mengharap kesejahteraan bersilangan di udara. Gong Xi Fa Cai 2568: semoga rezeki kesehatan dan kedamaian tercurah kepada kawan-kawan semua.

Suku bangsa ini, Cina, ada di setiap kota di dunia. Mereka adalah contoh bangsa yang bertebaran di berbagai tempat di muka bumi tetapi tetap teguh menjaga budaya dan identitasnya. Karakter suku bangsanya. Pusat kota London, tepat di belakang Trafalgar Square yang tak jauh dari Buckingham Palace adalah kawasan Pecinan prestisius. Di kota Liverpool bahkan ada China Town dengan gerbang besar yang kokoh dan bertulisan huruf mandarin. Di Jakarta, sebagian besar kawasan di barat dan utara kota adalah kawasan Pecinan.

Dan Makassar, kota saya tercinta, cerita tentang orang-orang Cina adalah cerita tentang perjalanan sejarah Makassar sendiri. Apa jadinya Makassar tanpa warga keturunan Cina? Seusai kerusuhan tahun 1997, Panglima Kodam Wirabuana, Mayjen Agum Gumelar saat itu mempunyai perumpamaan yang tepat: "Cari baterei pun susah." Ketika kerusuhan melanda, warga keturunan Cina memang menutup toko-toko dan usaha mereka selama tiga hari. Dan Makassar — saat itu masih bernama Ujungpandang — pun seperti kota yang lumpuh.

Dan inilah cerita saya tentang warga keturunan Cina di Makassar, yang jumlahnya tak sampai 100.000 di antara hampir 2 juta jiwa penduduk kota. Sebuah cerita lama yang ingin saya tuliskan kembali.

Orang-orang Cina datang ke Makassar dalam keadaan miskin di tahun 1676, saat Kerajaan Gowa di bawah kekuasaan Karaeng Bisei. Mereka memang mengembara dari Hokkian di daratan Cina, negeri yang ribuan mil jaraknya. Di kota ini mereka diterima dengan tangan terbuka.

Di tanah harapan itu, dari puluhan orang, mereka beranak-pinak jadi ratusan. Pada akhir abad ke-19, jumlah orang Cina di Makassar telah mencapai 500 orang. Mereka dipimpin seorang bangsawan keturunan Dinasti Tung yang pernah berkuasa di Cina, yang disebut Kapitan Tung.

Pekerjaan mereka awalnya adalah menjual kecap, membetulkan sepatu, dan yang sedikit pintar menjadi pedagang antara pengusaha pribumi dengan kapal-kapal Eropa. Mereka keliling kota memakai topi lebar berujung lancip, menjual kecap dengan pikulan dan giring-giring berlonceng. Sementara, para wanita Cina, sudah terbiasa memakai kebaya dalam bekerja dan bepergian. Dengan warga pribumi, mereka akrab, sebagian prianya bahkan menikah dengan warga suku Makassar.

Peranakan-peranakan Cina Makassar ini, bahkan tak kenal lagi bahasa induknya. Mereka justru mahir berbahasa Makassar.

Jika tahun baru Imlek tiba, warga mereka larut dalam perayaan yang disambut suka-cita oleh orang-orang pribumi. Mereka menggantung petasan dan menggelar atraksi barongsai di kawasan Pecinan yang kini menjadi Jalan Sulawesi dan sekitarnya. Orang-orang pribumi ikut memanggul naga raksasa buatan diiringi tari-tarian. Orang-orang Cina sepuh di Makassar kini tentu masih ingat, dulu ada satu keluarga pembuat barong di Jalan Sulawesi. Jika perayaan Imlek tiba ia membuat dua barong raksasa, satu melambangkan dewa, yang lainnya dewi. Dewa menanti di Makassar, sedang barong dewi di kota Maros, 30 kilometer utara kota. Barong-barong itu dipertemukan di tengah jalan oleh penari-penari pribumi yang memanggulnya. Atraksi barongsai setiap Imlek itu masih dilihat warga kota Makassar sampai tahun 1950, sebelum pemerintah mengeluarkan larangan memainkan tarian tradisional Cina ini di Indonesia selepas peristiwa kisruh politik di tahun pergantian rezim Orde Lama ke Orde Baru.

Belandalah yang menanam bibit merenggangnya hubungan orang-orang Makassar pribumi dengan keturunan Cina. Sekitar tahun 1935 pemerintah kolonial Belanda membagi penduduk Makassar dalam tiga kategori: Belanda, pribumi, dan orang-orang Timur Asing (Cina, Arab dan India). Orang-orang Timur Asing mendapat banyak kemudahan ketika berhubungan dengan birokrasi kolonial, terutama kemudahan menguasai dan membeli tanah milik orang-orang pribumi. Anak-anak Cina bersekolah di sekolah khusus warga Cina yang berbahasa pengantar bahasa Belanda: Chinese Lagere School.

Waktu berlalu, orang-orang Cina di Makassar bertambah. Selain beranak-pinak dengan pesat, generasi ketiga orang Cina di Makassar menerima tambahan kedatangan warga dari Pulau Jawa yang kian padat. Setelah kemerdekaan, sekitar tahun 1950, orang Cina telah berkembang sampai 5.000-an orang. Sementara, orang Timur Asing lainnya dari India, dianggap terlalu sedikit dan tidak berpengaruh terhadap keseharian warga Makassar, terutama di bidang ekonomi. Adapun orang-orang Arab dihormati sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW.

Begitulah. Seperti kota-kota lain di Indonesia, etos kerja yang tinggi dari warga Cina di Makassar mengangkat harkat perekonomian mereka. Kendati di antara mereka, ada juga yang menjadi pejabat dan intelektual. Sebut saja Komisaris Polisi Tung, Hakim Thio Tiong Gun yang pada awal 1960-an dikenal sebagai pejabat-pejabat yang jujur. Dan jangan lupa Profesor Teng Tjeng Leng, intelektual dari Makassar yang menjadi anggota delegasi Indonesia pada Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda. Oh ya, ada juga segelintir orang Cina-Muslim yang biasanya melaksanakan shalat di sebuah masjid di kawasan Pasar Butung — seperti Masjid Lautze di Sawah Besar, Jakarta.

Dalam perjalanan waktu, konflik berbau SARA beberapa kali terjadi. Misalnya, yang terkenal adalah Peristiwa Toko La di tahun 1980. Waktu itu pemilik Toko La di Jalan Sungai Calendu, menghamili pembantunya, perempuan asal Toraja. Ia lalu membunuhnya ketika wanita malang ini minta dinikahi. Tindakan bejat oknum warga ini sontak menyebar dan akibatnya dialami orang-orang Cina yang tak bersalah di Kota Makassar. Mereka diganyang. Peristiwa Toko La meninggalkan luka yang dalam, sedikitnya 1.123 rumah dan toko, 29 mobil dan 42 dirusak massa yang beringas.

Tujuh belas tahun kemudian, 15 September 1997, kerusuhan kembali meletup tapi tidak meluas dan hanya berlangsung singkat. Gara-garanya, seorang pengidap penyakit jiwa bernama Benny Karre di Jalan Kumala, telengas membacok seorang anak kecil.

Setelah itu, Makassar kembali seperti sediakala. Kota untuk semua bangsa. Dan semoga terus begitu.

Beberapa tahun lalu, saya datang ke Kota Guangzhou, kota metropolitan terbesar di bagian selatan Cina, yang dibelah Sungai Mutiara. Saya dijemput di Bandara Baiyun oleh seorang lelaki berbadan tegap, usia paroh baya, dan memperkenalkan dirinya dengan nama Edy. Saya pun memanggilnya Koh Edy. Saya kaget mendengar ia berbicara: bahasa Indonesia dialek Makassar, dengan bunyi huruf vokal panjang-panjang. "Di maaaana, sama siaaapa ... ?"

Koh Edy tak pernah ke Makassar, ia lahir dan besar di Guangzhou. Lalu darimana dialek itu?

Ternyata, orang tuanya dari Makassar. Mereka terusir bersama seratusan keluarga dari Makassar seusai kisruh politik di tahun 1965. Keluarga-keluarga ini kemudian berlayar ke kampung leluhur, ke kota yang sesungguhnya masih asing bagi mereka. Di Guangzhou, orang-orang Makassar ini tinggal bertetangga di rumah-rumah susun. Sehari-hari mereka tetap berbahasa Makassar atau bahasa Indonesia berdialek Makassar. Lalu menurun ke anak-anaknya: seperti Koh Edy yang menemani saya di Guangzhou yang seumur-umur belum pernah ke Makassar.

Saya masih menyimpan nomer telepon Koh Edy — pemandu orang-orang Indonesia yang hendak berpesiar ke Guangzhou. Hari ini, saya mengirim pesan Selamat Tahun Baru Cina kepadanya. Juga untuk kawan-kawanku semua.

Selamat merayakan Imlek. Semoga Anda semua dilimpahi kesejahteraan dan kedamaian. Gong Xi Fa Cai 2568.

(dikutip dari FB Bang Tomi Lebang https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=980297742023390&id=814634895256343)



Follow News : Riau | Kampar | Siak | Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul | Berita Riau

foto

Terkait

Foto

Ahok Datang Lagi ke Pulau Pramuka, Apa yang Terjadi?

Riau Book - Basuki Tjahaja Purnama datang ke Pulau Pramuka, ibukota Kabupaten Kepulauan Seribu, siang tadi. Inilah sesungguhnya kampung halamannya…

Foto

Mereka yang Berdiri Mengayomi Kaum Minoritas

Presiden Amerika Donald Trump dikabarkan akan membangun database khusus warga Muslim Amerika untuk memudahkan pemerintahnya mengawasi pergerakan mereka, kaum minoritas…

Foto

Belajarlah Nilai-nilai Komunal Sesungguhnya Demi Damai Bangsa ini

Riau Book - Bangsa ini sedang dirundung masalah politik dan ekonomi yang luar biasa, berpotensi memberi dampak buruk, termasuk krisis…

Foto

Tersangkut Korupsi, Ada yang Tak Jera!

Riau Book - Kasus suap ke Patrialis Akbar memunculkan nama lama -- sosok yang tak tobat-tobat: Basuki Hariman! Orang ini,…

Foto

Hakim MK Tertangkap Tangan!

Riau Book - Saya tiba-tiba mengingat Jimly Asshiddiqie. Maksud saya, Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie,S.H., Ketua Mahkamah Konstitusi periode 2003-2008. Orang…

Foto

Andai Aku Presiden

Oleh: Wira Atma Hajri, S.H., M.H."Hanya dengan kekuasaanlah agama bisa dijaga".(Ulama Besar Islam Syeikh Ibnu Taimiyah)Andai aku Presiden, akulah orang…

Foto

Puisi Kedamaian

Riau Book - Penguasaan politik tengah membelenggu ekonomi bangsa ini, adu domba nyaris memecah kedamaian, menghancurkan keindahan saat bersama dalam…

Foto

Ayo, Kritis Memilih Media Massa

Riaubook - Publikasi adalah bagian terpenting dalam menginformasikan kegiatan atau acara. Sebut saja di media massa, baik cetak, elektronik dan…

Foto

Ensiklopedia Kehidupan

Rasulullah SAW bersabda "Sesungguhnya Allah swt memiliki ahli dari golongan manusia." Lalu ditanyakan (pada beliau saw) siapakah ahli Allah diantara…

Foto

Redaksi Riaubook: Tageline Baru, Semangat Baru

Dua tahun sudah usia Riaubook.com. Dua tahun pula portal berita ini hadir di tengah masyarakat Riau khususnya dan Indonesia maupun…

Foto

Pemerintahan Mengguncang Lagi, Indonesia Butuh Pahlawan

Riaubook - Hari itu, seorang ibu dengan pilu berkata kepada anaknya, nak, roti kecil ini yang beberapa hari yang lalu…

Foto

Selamatkan Pulau-pulau di Indonesia

Sebagai Negara yang dianugerahi Tuhan Yang Maha Esa dengan ribuan gugusan pulau yang membentang dari Sabang sampai Merauke, dan dengan…

Foto

Tabligh Akbar Wakil Sekjen MUI dan Pengakuan yang Mengejutkan

Oleh: Wira Atma Hajri, S.H., M.H.Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Riau Konsentrasi Ketatanegaraan (Siyasah)/Abituren Ma'had Daarun Nahdhah Thawalib BangkinangSenin tertanggal…

Foto

HOAX dalam Kondisi Kebebasan Berpendapat di Dunia Perpolitikan

Di negara yang berasaskan demokrasi ini, sangat menekankan kebebasan berpendapat. Hal ini telah diatur dalam UUD 1945 pasal 28E ayat…

Foto

Pemilih Cerdas Pemimpin Berkualitas

Pemilihan umum adalah sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat yang diselenggarakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil dalam negara kesatuan…

Foto

Menanti RTRWP yang Pro Rakyat

Riau salah satu provinsi yang belum memiliki perda Rencana tata ruang wilayah (RTRW) sejak tahun 2005 hingga sekarang, sehingga mengakibatkan…

Foto

Kedaulatan NKRI Terancam?

Berbicara tentang kedaulatan selalu identik dengan kekuasaan NKRI. Menurut KBBI kedaulatan adalah kekuasaan tertinggi atas pemerintahan Negara. Melihat negara yang…

Foto

RTRW untuk Masa Depan Provinsi Riau, Kapan Disahkan?

Indonesia merupakan Negara yang kaya akan sumber daya alam nya. Hutan merupakan salah satu yang terdapat didalam SDA tersebut. Riau…

Foto

Calon Tunggal, Pertempuran Usai Sebelum Laga Dimulai

Riau Book - Kadang-kadang, pertempuran telah selesai sebelum laga dimulai. Itu yang terjadi di sembilan dari 101 daerah di Indonesia…

Foto

Menumpas Korupsi Kehutanan

Oleh: Agung Hermansyah(Peneliti Muda Law Action (LawAct) Indonesia dan Mahasiswa Jurusan Hukum Agraria dan SDA Fakultas Hukum Unand)Hutan merupakan salah…

Wisata dan Gaya Hidup

Foto

Tiga Pemenang Duta Muslimah Preneur Riau 2026 Resmi Terpilih, Siap Gerakkan Ekonomi Lokal

RIAUBOOM.COM - Pengurus Wilayah Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (PW IPEMI) Provinsi Riau sukses menggelar puncak pemilihan Duta Muslimah…

Foto

Ini Cara Orang Pekanbaru Sambut Ramadan, SF Hariyanto: Dengan Hati Bersih Jiwa Lapang

RIAUBOOK.COM - Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto, secara resmi membuka rangkaian perayaan tradisi Petang Belimau Kota Pekanbaru yang…

Foto

Tari Zapin 6 Ribu Peserta Pecah Rekor Dunia, Plt Gubernur: Riau Memilih Untuk Maju Tanpa Tercerabut

RIAUBOOK.COM - Sebanyak 6.000 penari menyatu dalam satu denyut nadi, mempersembahkan Tari Zapin Masal yang bukan sekadar tarian,…

Pendidikan