RIAUBOOK.COM - Boing harus menanggung rugi sebesar 4,9 miliar USD atau sekitar Rp68 triliun akibat sanksi larangan terbang yang diterapkan terhadap 737 Max, salah satu "burung besi" milik produsen pesawat terbang asal Amerika Serikat tersebut.
Sebagian besar dari uang Rp68 triliun itu digunakan untuk memberikan kompensasi kepada pelanggan Boeing atas gangguan jadwal dan keterlambatan pengiriman pesawat yang dipesan.
"Kami mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mengelola likuiditas kami dan meningkatkan fleksibilitas neraca kami sebaik mungkin saat kami sedang mengatasi tantangan ini," kata direktur keuangan Boeing, Greg Smith, dalam sebuah pernyataan.
Seperti dilansir dari detikcom, Kamis (19/7/2019), larangan terbang akibat dua kecelakaan mematikan yang sebelumnya dialami pesawat 737 Max, diperkirakan akan menyedot laba yang diperoleh Boing dalam laporan keuangan yang diumumkan pekan depan.
Hingga saat ini juga masih belum diketahui kapan 737 Max akan diizinkan kembali ke udara.
Sementara, dalam sebuah pernyataan Boeing juga mengatakan "perkiraan terbaik saat ini" adalah bahwa 737 Max akan kembali terbang dalam tiga bulan terakhir tahun ini.
Kecelakaan pesawat di Indonesia pada Oktober tahun lalu, yang disusul kecelakaan lainnya di Ethiopia pada Maret, secara keseluruhan menyebabkan 346 orang tewas seketika.
Dua insiden ini membuat 737 Max dilarang terbang dan Boeing harus menghadapi salah satu krisis terburuknya.
Para investigator kecelakaan memusatkan upaya mereka pada sistem kontrol pesawat dan Boeing telah bekerja sama dengan regulator untuk memutakhirkan perangkat lunaknya.
Pabrikan pesawat yang juga menghadapi pengawasan ketat atas izin pengaturan pesawat layak terbang, sudah memangkas jumlah produksi bulanan dari 53 pesawat menjadi 42 pesawat karena banyak maskapai yang menunda pembelian.
Dalam pernyataan yang sama, direktur eksekutif Boeing, Dennis Muilenburg, mengatakan: "Ini adalah momen yang menentukan bagi Boeing. Tidak ada yang lebih penting bagi kami selain keselamatan awak pesawat dan penumpang yang terbang di pesawat kami.
"Larangan terbang Max menghadirkan tantangan besar dan dampak finansial pada kuartal ini mencerminkan tantangan saat ini dan membantu mengatasi risiko keuangan di masa mendatang."
Boeing menyatakan pihaknya terus bekerja sama dengan otoritas penerbangan untuk mendapatkan izin penerbangan 737 Max, yang diharapkan bisa terbit pada kuartal keempat 2019.
Namun pernyataan itu menambahkan: "Asumsi ini mencerminkan perkiraan terbaik perusahaan saat ini, tetapi kapan tepatnya pesawat itu beroperasi kembali bisa jadi berbeda dari perkiraan ini."
Boeing juga memperingatkan jika jadwal ini meleset, dan pengiriman pesawat kembali tertunda, maka itu akan berdampak pada kerugian finansial yang lebih besar.
Sumber: detikcom


Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…