RIAUBOOK.COM - Badan Operasi Bersama (BOB) PT Bumi Siak Pusako (BSP) - Pertamina Hulu Energi (PHE) dalam tiga tahun mengalami penurunan dari sisi produksi hasil kegiatan eksploitasi minyak bumi yang dilakukan.
Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Riau mencatat, pada triwulan I tahun ini produksi BOB baru mencapai 8.480,00 BOPD (Barrel Oil Per Day) dengan lifting 870.547,00 barel. Terus mengalami penurunan jika dibandingkan produksi dan lifting beberapa tahun terakhir.
Tahun lalu, produksi minyak BOB mencapai realisasi 10.590,79 BOPD, juga turun dibanding tahun 2017 yang mencapai angka 10.849,58 BOPD dengan lfting 3.960.098,00 barel.
Sedangkan untuk tahun 2016, kinerja BOB lebih positif, dengan kemampuan memproduksi minyak bumi hingga mencapai 12.111,23 BOPD dengan lifting 4.420.599,00 barel.
Penurunan produksi dan lifting ini dikhawatirkan akan semakin parah jika Pertamina lebih fokus mengelola ladang minyak Blok Rokan yang akan habis kontrak pada 2021 dari Chevron. Dan sepenuhnya mempercayakan BSP melakukan kegiatan eksploitasi sendiri Blok Coastal Plan Pekanbaru (CPP Blok).
Kepala Dinas ESDM Provinsi Riau Indra Agus Lukman mengatakan saat ini PT BSP dan PHE masih beroperasi sampai masa kontrak berakhir pada 2022.
"BSP belum beroperasi sendiri, sekarang masih dengan PHE nanti tahun 2022 baru berdiri sendiri. Karena sekarang masih masa transisi," katanya.
Disinggung soal menurunnya produksi dan lifting BOB BSP-PHE dalam tiga tahun terakhir, Indra mengatakan penurunan itu merupakan hal alami di bisnis minyak bumi lantaran yang dikelola merupakan ladang minyak tua.
"Untuk meningkatkan produksi membutuhkan sumur pengembangan lapangan minyak. Jika ada pengembangan tentu butuh investasi. Biasanya dalam kondisi seperti ini perusahaan migas kalau belum diperpanjang belum ada investasi. Makanya tiga tahun terakhir pasti produksi menurun karena menunggu kebijakan pemerintah pusat apakah kontraknya diperpanjang atau tidak," katanya.
Mengenai kemampuan SDM untuk mengelola ladang minyak CPP Blok secara mandiri, Indra meyakini BSP tidak kalah dengan PHE.
"BUMD kita mampu lah untuk mengelola lapangan minyak sendiri, bahkan untuk SDM dari pribumi juga mampu mengelola itu. Sekarang tinggal kepercayaan saja karena mengelola ladang minyak ini butuh kepercayaan. Baik itu kepercayaan dari pemerintah, masyarakat dan pemegang modal," ujarnya.
Bahkan menurut Indra, secara teknis dan teknologi BSP dinilai sudah siap karena BSP telah mendapat sertifikat platinum.
"Teman-teman BSP sudah siap. Artinya dari segi SDM tidak masalah, tinggal ke depan dengan sisa cadangan minyak yang ada kita harapkan di tangan BSP produksi minyak tak menurun. Saya kira teman-teman BSP sudah siapkan itu semua untuk mengantisipasi agar produksi tetap stabil," paparnya.
Sementara dalam hal pembiayaan, Indra katakan, juga sudah ada kajian terhadap BSP dari sisi kemampuan ekonomi, apalagi ini merupakan bisnis padat modal.
"Itu sudah dikaji, mereka akan menggunakan sistem apa, dan teknologi apa, sehingga mana yang lebih efesien itu yang akan digunakan untuk mengelola lapangan minyak," kata dia.
Secara teknis dan teknologi, ungkap Indra, BSP telah memiliki pemahaman untuk menjalankan bisnis tersebut. (RB/Dwi)



Riau Pesisir: Merancang Garis Depan Kemakmuran
SAYA menulis catatan ini bukan dari ruang seminar, tapi dari jalan lintas ke Dumai yang hampir tiap pekan saya lewati.…