Ilustrasi. (net)

Sabtu, 27 Juli 2019 - 23:23 WIB 16050000

Dua Aktivis Syiah Dieksekusi Mati atas Tuduhan Terorisme

Share ke BBM

RIAUBOOK.COM - Kerajaan Bahrain mengeksekusi mati dua aktivis Syiah atas tuduhan kejahatan terorisme, Sabtu (27/7/2019).

Kelompok-kelompok hak asasi manusia mengidentifikasi kedua aktivis Syiah itu sebagai Ali al-Arab dan Ahmed al-Malali, yang divonis hukuman mati pada tahun lalu, dalam persidangan massal bersama 56 orang lain.

Keduanyadiduga bagian dari sel teroris yang dilatih untuk menggunakan senjata berat dan bahan peledak. Sebanyak 19 orang dihukum penjara seumur hidup dan 37 lainnya dibui hingga 15 tahun

Jaksa penuntut umum setempat sebelumnya mengatakan, dua orang yang dieksekusi itu didakwa atas kejahatan menggunakan senjata api untuk membunuh polisi pada 2017.

Penyerangan itu disebut-sebut didalangi oleh para pemimpin yang berbasis di Iran.

Bahrain menuduh kelompok Syiah Iran mengobarkan militansi di kerajaan itu.

Tuduhan itu pun kemudian dibantah oleh Iran.

Meski mayoritas warganya penganut Syiah, namun Bahrain di pimpin keluarga Sunni.

Kelompok-kelompok hak asasi internasional termasuk Amnesty International, Human Rights Watch, dan pakar hak asasi manusia AS mendesak Bahrain untuk menghentikan eksekusi dua aktivis tersebut pada Jumat (26/72019).

Dalam penanganan kasus dua aktivis tersebut, polisi di sana diduga melakukan penyiksaan untuk memperoleh pengakuan.

"Saat dalam tahanan, para pria itu disiksa oleh petugas keamanan termasuk melalui sengatan listrik dan pemukulan. Kuku kaki Ali Mohamed al-Arab juga dicabut," kata Amnesty International dalam sebuah pernyataan.

Namun, pihak berwenang membantah tuduhan penyiksaan dan penindasan terhadap kelompok oposisi, dan mengklaim mereka melindungi keamanan nasional dari terorisme.

Persidangan massal merupakan hal yang biasa terjadi di Bahrain setelah pemberontakan gagal pada 2011 yang dipimpin oleh anggota oposisi Syiah. Sejumlah orang dipenjara terkait peristiwa itu, termasuk politisi dan aktivis hak asasi manusia. Banyak juga yang melarikan diri ke luar negeri.

Kelompok aktivis hak asasi manusia yang bermarkas di London, Institut Hak-hak dan Demokrasi Bahrain (BIRD), mengatakan bahwa peristiwa eksekusi terhadap dua aktivis itu menandai salah satu "hari paling gelap di Bahrain".

"Tampaknya pemerintah Bahrain merencanakan ini dengan cermat, mengatur waktu eksekusi bertepatan dengan reses legislatif di Amerika Serikat, Uni Eropa dan Inggris, untuk menghindari pengawasan internasional," kata Direktur BIRD Sayed Ahmed Alwadaei dalam sebuah pernyataan.

Sumber: CNNIndonesia.com

Share ke BBM

100000000
Dwi Anggera

Berita Terkini

Pria Bejat di Pelalawan 'Gagahi' Anak Dibawah Umur

Sabtu, 20 Juli 2019 - 19:40 WIB

Pencurian Satu Unit Ayla di SPBU Ukui Terekam CCTV

Senin, 15 Juli 2019 - 10:08 WIB

Berbonceng Tiga Bawa Sabu, Berakhir Bui

Kamis, 11 Juli 2019 - 19:37 WIB

Polisi Gagalkan Transaksi Narkoba di Bagan Hulu

Rabu, 26 Juni 2019 - 09:43 WIB

Polres Pelalawan Musnahkan 2 Kg Sabu Hasil Sitaan

Sabtu, 22 Juni 2019 - 12:44 WIB

Jaguar Milik Owen Hargraeves Digondol Pencuri

Selasa, 11 Juni 2019 - 00:01 WIB

Hari Ini Puncak Arus Balik Sumbar-Riau

Minggu, 09 Juni 2019 - 14:56 WIB

Cari Judul Berita

Populer



hut kota dumai riauboook

Galeri Pemkab Siak

galeri menanam padi siak


Galeri Riau Pustaka Lingkungan Dunia



Banner

Socialize