RIAUBOOK.COM - Wabah virus Corona yang penyebarannya bermula diketahui dari Wuhan, China, turut mempengaruhi mempengaruhi penurunan harga minyak mentah dunia.
Pasalnya, virus tersebut saat ini juga telah merebak ke 12 negara. Hal ini menyebabkan sjeumlah layanan transportasi, seperti terminal dan Bnandara di China ditutup sementara.
Banyaknya penerbangan yang dibatalkan di kota-kota di China serta beberapa negara yang bolak-balik ke negara itu, membuat permintaan minyak untuk maskapai penerbangan mengalami penurunan tajam.
Dikutip dari Kompas melansir CNBC International, Minggu (26/1/2020), penjualan minyak mencatatkan angka terburuk sejak Juli tahun lalu pasca merebaknya virus corona.
China sendiri merupakan importir minyak mentah terbesar di dunia, dimana pada tahun 2019 mereka bisa mengimpor rata-rata 10,12 juta barel per hari.
Selain itu, China juga tercatat sebagai negara dengan konsumsi minyak terbesar dunia setelah Amerika Serikat (AS).
Pada perdagangan terakhir hari Jumat (24/1/2020) lalu, harga minyak mentah di West Texas Intermediate jatuh hingga 2,5 persen atau 1,4 dollar AS yang saat ini bertengger di harga 54,19 dollar AS per barel.
Pada harga terendahnya, minyak mentah sempat menyentuh harga 53,85 dollar AS per barel atau berada pada level terendahnya sejak Oktober tahun lalu.
Penurunan harga minyak ini merupakan kerugian dalam empat hari berturut-turut. Sementara kontrak penjualan minyak sudah turun 7,4 persen selama tiga minggu terakhir.
Sementara itu, minyak Brent yang jadi rujukan harga minyak dunia, juga turun 2,2 persen menjadi 60,69 dollar per barel. Harga ini sudah turun 6,4 persen sejak tiga minggu lalu.
Virus ini telah menyebar dengan cepat ke berbagai negara. Negara lain yang sudah melaporkan temuan kasus corona antara lain Jepang, Korea Selatan, Hong Kong, Macao, Thailand, Vietnam, Taiwan dan AS.
Saat ini, lebih dari 33 juta orang saat ini terdampak pembatasan perjalanan, yang secara otomatis membuat permintaan bahan bakar jet atau avtur merosot.
Apalagi, wabah corona muncul bersamaan dengan perayaaan Tahun Baru Imlek yang setiap tahunnya jadi ajang mudik terbesar di dunia.
"Ketika kota harus dikarantina, angkutan umum berhenti beroperasi, artinya ini mengurangi aktivitas ekonomi dan memiliki dampak negatif pada permintaan energi, termasuk minyak," kata Analis Raymond James, John Freeman.
"Begitu sudah diketahui jenis virus ini, segera sesudahnya gangguan ekonomi yang diakibatkannya akan mulai mereda. Sentimen pada minyak akan kembali membaik, dan harga minyak akan naik lagi," tuturnya.


Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…