RIAUBOOK.COM - Cukup miris kisah masyarakat Meranti selama ini, khususnya dari dua kecamatan. Yakni Kecamatan Rangsang dan Kecamatan Tebingtinggi Timur. Di mana jumlah KK dari kedua kecamatan itu mencapai 5.000 KK yang setiap musim harus hilir mudik ke Desa Penyalai Kabupaten Pelalawan hanya untuk menyewa lahan pertanian tanaman padi.
Umumnya masyarakat itu menyewa lahan, dan sewanya akan dibayar melalui padi dari hasil pertanian tersebut.
Hanya sebagian kecil masyarakat Meranti yang karena sudah cukup lama bercocok tanam padi di sana akhirnya mampu membeli sebidang tanah untuk dijadikan sawah tadah hujan itu.
"Umumnya masyarakat Meranti selama beberapa dekade terakhir hanya sebagai penyewa lahan pertanian," ungkap Julian Norwis, Sekretaris Daerah Kepulauan Meranti kepada RIAUBOOK.COM di Selatpanjang baru-baru ini.
Diungkapkan Sekda akrab disapa Pak Icut, mengisahkan masyarakat Meranti yang berladang di Desa Penyalai tersebut hanya menanam padi musiman setiap tahun. Makanya pada bulan-bulan tertentu masyarakat ini secara beramai-ramai berangkat menuju Penyalai.
Saat musim menanam maupun saat musim panen. Setelah padi ditanam, untuk sementara merekapun pulang ke kampung halaman masing-masing untuk pekerjaan lainnya. Seperti menoreh getah ataupun sebagai nelayan tradisionil. Dan setelah diperkirakan padi sudah menguning, maka rombongan inipun akan kembali mendatangi ladangnya, untuk panenan.
Dan tiba waktunya, usai panen merekapun pulang ke Meranti dengan membawa beras. Demikianlah siklus musim menanam padi di Desa Penyalai itu dilakukan masyarakat Meranti selama ini.
Mereka menggunakan transportasi laut carteran dan ongkosnya pun dibayar dengan beras atau padi dari hasil panen itu,"ucap Icut.
"Jadi selama ini, beras dari Penyalai itulah satu-satunya makanan pokok masyarakat Meranti. Sebab memang di Meranti selama ini keadaan sawah masih cukup jarang," tuturnya lagi.
Kalaupun ada jumlahnya sangat sedikit. Sebab lahan yang ada cukup sulit untuk dijadikan lahan pertanian dengan berbagai kendala, terutama dengan tingginya intrusi air laut ke pedalaman selama ini.
Adapun lahan pertanian yang ada selama ini, hanya terdapat di beberapa desa saja. Seperti Desa Melai, Desa Bina Maju dan desa sekitarnya. Dan umumnya di berbagai desa dan kecamatan lainnya sama sekali tidak mengenal sawah atau kegiatan menanam padi.
Hati Irwan Terenyuh
Melihat kondisi yang dialami masyarakat Meranti itulah, lanjut Icut, Bupati Irwan sejak tahun 2013 lalu mencanangkan pembangunan cetak sawah baru di berbagai desa di Meranti.
Untuk tahun 2013 tersebut Pemkab Meranti memulai membuka lahan persawahan baru di berbagai desa yang ada. Seperti di Desa Tanjung Gadai, Desa Topang, Desa Segomeng, Desa Renak Dungun dan Desa Anak Setatah.
Kemudian untuk tahun berikutnya yakni tahun 2014 cetak sawah baru dilakukan di Desa Topang. Desa Penyagun, Desa Batang Meranti, dan Desa Tanjung Bunga. Sementara program cetak sawah baru untuk tahun 2015 memang ditiadakan, berhubung pada tahun itu adanya rasionalisasi anggaran.
Sehingga program cetak sawah baru tersebut kembali dilanjutkan tahun 2016 dengan luas 900 Ha lebih. Sementara untuk tahun 2017 program yang sama akan terus dilanjutkan dengan luas 400 Ha.
Pembangunan itu terdapat di 11 desa pada 6 kecamatan. Kita terus berupaya meningkatkan produksi beras di Meranti, melalui pembangunan cetak sawah baru. Dan kita yakin pada saatnya nanti Meranti akan mencapai swasembada beras,"ungkap Icut.
Berkurang Drastis
Menurut pengakuan Sekda Julian Norwis, dengan program cetak sawah baru dan realisasi yang sudah dibukukan hingga tahun 2016, dengan luas lahan seluas 4.000 Ha lebih, menjadikan masyarakat Meranti yang selama ini umumnya bertani di kabupaten tetangga, saat ini jumlah masyarakat yang masih berladang ke Desa Penyalai sudah jauh berkurang.
Mereka yang masih berulang-ulang ke sana, hanya mereka yang sudah memiliki lahan pertanian di sana. Dan masyarakat yang selama ini hanya menyewa lahan, seluruhnya sudah menjadi petani di Meranti.
"Dan dari hasil pertanian tanaman padi tersebut, saat ini lebih kurang 36 persen dari kebutuhan beras per tahun di Meranti sudah bisa tertutupi,"tutup Sekda.(advertorial)
Follow News : Riau | Kampar | Siak | Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul | Berita Riau


Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…