RIAUBOOK.COM - Politik Riau bukan politik biasa, dan itu terbukti dengan kondisi yang sulit ditebak dan runyam untuk dipahami dengan akal polos manusia.
Banyak prediksi dari pemikiran 'kedai kopi', banyak juga ulasan dari para tokoh daerah, pengamat hingga akademisi, tapi politik tidak pernah menemukan adaptasi pasti.
Tokoh Bupati Rokan Hulu (Rohul) nonaktif Suparman sebelumnya memprediksi Arsyadjuliandi Rachman bakal berpasangan dengan Syamsuar pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) Riau.
Ketika itu, Suparman memandang, Syamsuar yang kini Bupati Siak dan mantan birokrat merupakan sosok ideal dalam menjalankan roda pemerintahan bersama Andi Rachman (sapaan akrab Gubernur Riau).
"Nanti pasangan bang Andi adalah Syamsuar di Pilgub," kata Suparman dengan nada optimistis.
Namun prediksi yang diungkap Suparman pada Maret 2017 itu terbantahkan, setelah Andi justru melakukan pendekatan intens dengan Bupati Rokan Hilir (Rohil), Suyatno.
Pada awal Oktober 2017, Pengurus Pemuda Pancasila (PP) se-Provinsi Riau menyatakan dukungannya kepada Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman dan Bupati Rohil Suyatno untuk maju dalam Pilgubri tahun ini.
Kemudian pada 3 November 2017 2017, pasangan ini kian mesra setelah SK dukungan yang ditanda tagani Setya Novanto --Ketika itu Ketum Golkar-- akhirnya terbit untuk mereka.
Pasangan Arsyadjuliandi Rachman-Suyatno kembali mendapatkan Surat Keputusan (SK) dari DPP PDI Perjuangan, yang dibacakan langsung oleh Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri, Minggu (17/12/2017).
Arsyadjuliandi Rachman, ketika itu mengatakan, dengan telah dikeluarkannya rekomendasi resmi yang dibacakan langsung Megawati maka semakin menguatkan dan menyolitkan timnya dalam menghadapi Pilkada 2018.
Terakhir pada awal tahun ini, giliran Partai Hanura yang ternyata juga telah memberikan dukungan terhadap pasangan Andi-Yatno.
Hal itu terlihat dari berbagai spanduk dan banner terdapat juga logo Hanura yang tersebar di media sosial tentang deklarasi akbar pencalonan keduanya yang akan dilaksankaan di Pekanbaru pada 7 Januari 2018.
Dengan dukungan tiga partai tersebut, dipastikan pasangan Andi-Yatno melaju ke gelanggang demokrasi mendatang dengan mengantongi 25 kursi legislatif.
Pasangan ini pantas disebut 'kuda yang gemuk'.
Syamsuar - Edy Natar
Pasangan lainnya yang sudah dipastikan bertarung menghadapi Andi-Yatno adalah Syamsuar - Edy Natar Nasution.
Kepastian itu setelah keduanya secara sah menerima Surat Keputusan (SK) DPP Partai Amanat Nasional (PAN) disusul dengan dua partai lainnya untuk mencukupi kursi di legislatif.
Syamsuar merupakan Bupati Siak dua priode, sedangkan Brigjen Edy adalah Komandan Korem Wirabima 031, Riau saat ini.
Selain PAN yang memiliki 7 kursi, pasangan ini juga telah menerima SK dukungan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Nasional Demokrat (NasDem) 3 kursi dan disusul PKS 3 kursi, hingga total kursi legislatif yang berhasil dihimpun adalah 13 kursi.
Syam-Edi, pasangan ini layak disebut 'kuda yang ideal' yang melaju di gelanggang Pilgub Riau.
Lukman Edy - Asri Auzar
Pasangan dengan sebutan 'Next Gubri Zaman Now', Lukman Edy - Asri Auzar juga sama runyamnya. Meski telah mendapat dukungan penuh dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), sampai hari ini belum menemukan partai koalisi yang pasti.
Adaptasi pasangan partai untuk PKB semakin alot setelah sejumlah partai yang diprediksi bakal bersatu justru beralih ke pasangan lainnya.
Tujuh partai yang sebelumnya sempat diklaim berkoalisi dengan PKB, yakni Partai Demokrat, Hanura, Nasdem, Gerindra, PAN, dan PPP justru sebagian telah lepas ke pangkuan nakhoda lain.
Saat ini dari 7 partai yang menjadi target koalisi itu, hanya tersisa Gerindra, PPP, dan Partai Demokrat, selaian PKB yang sudah lebih awal ketumnya Muhaimin Iskandar memberikan dukungan untuk Lukman Edy.
Tanpa pasangan partai, Lukman Edy baru mengantongi 6 kursi legislatif dari PKB dan membutuhkan 7 kursi untuk dapat melaju, bertarung dalam pentas politik untuk perebutan tahta Gubernur Riau.
Prediksi politik, pasangan LE-Asri harus mendapatkan minimal satu partai tambahan dengan jumlah lebih 7 kursi yang hanya dimiliki Demokrat (9 kursi) atau Partai Gerindra.
Jika terealisasi, pasangan LE-Asri pantas disebut 'kuda hitam'.
Namun, PPP menjadi 'juru kunci' untuk menentukan pentas politik Pilgub Riau tahun ini cukup 3 pasang atau justru digenapkan menjadi 4 pasang.
Terdapat beberapa nama yang disebut berpotensi untuk menggenapkan jumlah petarung pada Pilgub Riau nanti, mereka adalah HM Harris, Bupati Pelalawan, yang sebelumnya sempat menyebut akan berpasangan dengan Bupati Indragiri Hulu (Inhu) Yopi Arianto.
Nama lainnya adalah Achmad, mantan Bupati Rokan Hulu (Rohul) yang sebelumnya dikabarkan berpasangan dengan Edi Tanjung (kader Gerindra).
Kemudian ada nama Firdaus MT yang saat ini menjabat sebagai Wali Kota Pekanbaru, yang sebelumnya dikabarkan akan maju bersama petinggi partai 'juru kunci', Rusli Effendi.
Lagi-lagi, #Politik Riau itu beda, peta politik bisa saja mengubah arah pacuan bahkan saling bertukar joki.
Yang jelas, 'head to head' masih mungkin terjadi, muncul dari kader beringin yang terbuang, bisa juga 'kuda hitam' mengunci pertarungan dengan hanya tiga pasang.
Atau, justru muncul 'kuda hitam' lainnya yang tampil dari koalisi paling runyam, Demokrat-Gerindra.
Lihat saja...
Oleh Pemimpin Umum RiauBook.com /Fazar Muhardi
Follow News : Riau | Kampar | Siak | Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul | Berita Riau


Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…