RIAUBOOK.COM - Oleh Padli AR (Ketua Wilayah KAMMI Riau)
Beberapa hari lagi Pilkada serentak seluruh Indonesia memasuki tahap pendaftaran. Beberapa partai sudah declare calon nya masing-masing di setiap daerah. Di Riau, paling tidak sudah muncul dua nama, pasangan Andi Rachman-Suyatno dan Syamsuar-Edi Natar. Kita tunggu saja, sekaligus ikut berpartisipasi dalam menyukseskan suksesi lima tahunan kepemimpinan di tanah para Raja ini.
Setelah duduk-duduk di warung kopi dan menjalani diskusi santai sampai (yang) banyak debatnya, saya menyimpulkan paling tidak ada lima tipe pemilih dalam Pilkada 2018 ini especially di Riau.
Pertama, para pengamat. Kecenderungan pengamat adalah membuka lebar fakta calon-calon yang maju. Track record, visi-misi, SWOT / kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats).
Membandingkan antara satu calon dan calon lain menjadi keniscayaan bagi kelompok ini. Mereka memilih berdasarkan riset atau survei dan biasanya tidak terlibat dalam politik praktis memenangkan salah satu calon. Bahkan merahasiakan siapa yang dipilih. Sebagian mereka adalah pengamat politik dan sebagiannya akademisi.
Kedua, tim sukses (timses) garis lurus. Kategori ini saya buat bagi timses yang ikut dalam memenangkan salah satu calon namun tidak ikut mengomentari calon yang lain.
Kelompok ini hanya fokus mem branding calon yang didukungnya. Isi pembicaraan dan catatan media sosialnya penuh dengan informasi positif calonnya, namun tidak pernah atau sangat jarang berisikan info destruktif atau menjatuhkan lawan diskusi yang beda calon. Paling hanya terlibat diskusi panjang saja tanpa konflik.
Ketiga, timses all out, ini tipe yang ingin calonnya yang paling benar, paling hebat, punya peluang menang paling besar, dan gunakan banyak cara untuk menang. Kadang juga terlibat dalam perdebatan yang panjang sampai pada konflik walau antar mereka adalah teman bahkan keluarga.
Tipe ke dua dan ke tiga ini memilih tentu dengan banyak alasan bisa jadi karena hubungan emosional, keluarga atau kepentingan, bisa juga sama seperti cara pandang tipe pertama walaupun kecil kemungkinannya.
Beda yang kedua dan ketiga barangkali cuma cara mereka dalam menyampaikan pesan calon yang didukung kepada calon pemilih.
Ke empat Tipe taklid, bagian ini adalah kelompok yang dia punya kemampuan atau tidak dalam membaca situasi politik, tetapi tetap ikut keputusan satu atau sekelompok orang.

Foto: Padli AR, Ketua KAMMI Riau (RB)
Biasanya mereka yang tergabung dalam organisasi atau melihat seorang panutan yang dipercaya bisa menjadi tempat bertanya dan mengadu. Walaupun kadang tidak sesuai dengan hati nurani biasanya kelompok ini tetap ikut apa keputusan pimpinan atau orang yang dituakan dalam kelompoknya.
Kelima tipe 'apolitik', kelompok yang tak mau tahu dengan pilkada. Bahkan sebagian mereka berpendapat siapapun yang jadi gubernur sudah pasti tak ada perubahan dan tak kan bisa merubah apapun. Dibandingkan dengan empat tipe sebelumnya, tipe ke kelima ini adalah kelompok yang paling banyak penghuninya.
Ini bisa dilihat dari persentase jumlah pemilih dalam setiap pilkada, dimanapun dan kapanpun. Saya sebagai warga yang peduli dengan daerah dan demokrasi, menyarankan silahkan masuk dalam tipe pertama, kedua, ketiga, atau ke empat tapi jangan sampai pada tipe ke lima.
Karena lapangan kerja, pendidikan, kesehatan, jaminan sosial, keamanan, dan banyak lagi yang lain ditentukan dari lima menit kita di dalam bilik suara. Paling tidak kita sudah berikhtiar, biarkan Tuhan yang menyelesaikannya. (RB/yopi)
Follow News : Riau | Kampar | Siak | Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul | Berita Riau


Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…