RIAUBOOK.COM - Sepulang melaksanakan patroli kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Desa Karya Indah, Kecamatan Tapung (perbatasan Pekanbaru-Kampar)pada Rabu (31/7/2019), Danramil 16/Tapung Kapten Inf Taufik Sihombing bersama sejumlah personel dari Tim 2 dan Tim 3 Sub Satgas Karhutla menyempatkan waktu singgah di rumah salah seorang warga desa untuk sejenak melepas lelah sembari mengisi perut dan beribadah.
Perbincangan ringan mewarnai suasana santap siang mereka, meskipun matahari perlahan mulai bergeser ke ufuk Barat.
Sebagai prajurit, tentu mereka terlatih melakukan pemetaan terhadap suatu wilayah, terlebih jika wilayah itu masuk dalam teritorialnya.
Tak heran, identifikasi masalah di Desa Karya Indah yang merupakan daerah rawan Karhutla, menjadi pembahasan saat bercakap-cakap sesama para prajurit satu meja, sore itu.
"Desa Karya Indah ini letakknya cukup strategis karena berbatasan langsung dengan Kota Pekanbaru, dan di sini banyak sekali lahan yang belum digunakan, baik untuk pertanian maupun bagi peruntukan lainnya," kata Danramil.
Selain itu, demikian Danramil, sebagian besar lahan di desa tersebut masih dihadapkan dengan masalah kepemilikan lahan.
"Masih banyak lahan yang bersengketa, baik antara masyarakat dengan masyarakat, masyarakat dengan perusahaan ataupun masalah-masalah administrasi lainnya. Hal ini menjadi salah satu penyebab masih adanya lahan tidur yang terbakar," ungkapnya.
Selain patroli rutin, dalam kegiatan sehari-hari Tim Satgas Karhutla yang dibentuk Dandim 0313/ KPR tersebut juga bertugas melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang dampak bahaya yang ditimbul akibat Karhutla.
"Kita dituntut untuk merubah pemikiran masyarakat agar tidak melakukan pelanggaran hukum dengan melakukan pembakaran hutan dan lahan, ini juga harus menjadi perhatian bagi semua pihak. Jangan kita ingin mau enak, tapi berbahaya bagi orang lain, apalagi kita dekat dengan Pekanbaru dimana ada Bandara Sultan syarif Kasim II yang tidak boleh ada asap pengganggu," tuturnya.
Gagasan untuk merubah pola pikir masyarakat dalam upaya pencegahan Karhutla melalui peningkatkan taraf hidup dan perekonomian pun muncul dalam perbincangan itu, mereka teringat arahan Dandim 0313/ KPR Letkol Inf Aidil Amin yang berniat mencanagkan dan memperkenalkan budi daya tanaman Porang, dimana harga jual komoditi ini cukup lumayan, mencapai Rp 100.000 per kilogram.
Apalagi tanaman Porang yang secara penampilan tumbuh dengan tangkai tunggal atau batang bercorak belang-belang hijau-putih. Dapat hidup di sela-sela tanaman besar.
Meski bentuknya tak beraturan dan membuat gatal bagi yang menyentuhnya, Porang merupakan komoditi incaran yang laris di ekspor ke Cina dan Jepang.
waktu terus berlalu, sambil menyantap makanan, curahan hati para prajurit pun terselip bersama "bungkus nasi". Kendala jarak antara tempat tinggal personel dengan daerah rawan karhutla terkadang cukup menyulitkan aktifitas Tim Satgas Karhutla yang tergolong tinggi.
"Jarak rumah personel jauh dari daerah rawan kebakaran, akses jalan yang belum baik, medan yang sulit, dan wilayah yang tidak dapat dilalui dengan kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat, menjadi kendala," ujar Danramil.
"Sementara, personel ada yang tinggal di Bangkinang dan daerah lainnya, sehingga mobilitasnya memang sedikit terkendala, namun salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan mendirikan posko didekat sasaran dan memberdayakan masyarakat sebagai sumber informasi jika ada kebakaran," ujarnya. (rb)


Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…