(Foto dok. pribadi)

Kamis, 25 Januari 2018 - 11:19 WIB 34280000

Mengapa Negara Wajib Beragama

Share ke BBM

RIAUBOOK.COM - Oleh Jufri Hardianto Zulfan, S.HDalam berbagai perbincangan, mulai dari tingkat masyarakat yang berdiam diri di pedesaan hingga masyarakat yang berdiam diri diperkotaan yang tentu saja mereka ada yang berlatar belakang pendidikan tinggi dan ada juga yang bukan berlatar belakang pendidikan tinggi, mereka begitu hangat membicarakan tentang keterkaitan antara agama dan negara, penafsiran tentang mengapa negara wajib Beragama tentu saja dapat dilihat dari berbagai segi dan aspek yang menguatkan tentang pentingnya agama dalam bernegara. Negara tidak cukup mengembangkan manusia-manusia yang tinggi gelar akademik saja akan tetapi lebih dari itu, negara memiliki kewajiban dalam pengembangan ahklak dan moral dalam setiap generasi, sehingga menimbulkan cendekia yang bermoral dan berahlak yang luhur. Serta munculnya kejenuhan-kejenuhan dalam bernegara, dengan adanya pertanyaan-pertanyaan, mengapa saat ini moral anak bangsa semakin merosot, mengapa perekonomian tidak kunjung nampak mencerahkan, mengapa fasilitas kesehatan semakin mahal, mengapa fasilitas pendidikan semakin sulit untuk di dapatkan dan mengapa negeri ini selalu saja di penuhi oleh para pelaku koruptor yang justru mereka memiliki latar belakang pendidikan yang begitu tinggi dan mencengangkan, maka sebenarnya ini apa yang salah dan dimana salahnya? Ada baiknya dalam hal ini penulis ingin memulai dan menerangkan mengenai posisi agama di dalam negara, diantaranya: Hukum Islam Biasa diistilahkan sebagai al-hukmu as-syar'i, merupakan kumpulan penjabaran syariat Islam yang berkaitan erat dengan soal akidah, ibadah, ahklak, muamalah dan sebagainya. Oleh para fuqaha, seluruh rangkaian-rangkaian aturan-aturan tersebut dikodifikasi sedemikian rupa, kemudian dikenal dengan istilah fikih. Diantara defenisi fikih yang diketengahkan oleh para Fuqaha adalah pegetahuan diri terkait apa yang merupakan hak dan kewajibannya. Dalam bahasa Arab, secara etimologi, as-syasah (politik) berarti melakukan sesuatu yang mendatangkan kebaikan. Jika dikatakan: sustu ar-ra'iyyah siyasatan, maknannya adalah, "aku memerintahkan dan melarangnya (yakni orang yang dipimpinya)". Atau, suwwisa ar-rajulu, artinya: "lelaki itu dikuasai (diatur)", yakni jika perkara mereka telah dikuasai. Kalimat as-susu bermakna, kepemimpinan. Istilah as-Siyasah as-Syar'iyyah termasuk dalam kategori istilah yang tidak digunakan untuk menunjukkan makna suatu perkara. Makannya para ulama klasik maupun kontemporer, memberikan defenisi beragam mengenai istilah as-Syar'iyyah, diantaranya: Ibnu 'Aqil al-Hambali (w. 513 H) mengatakan, "as-Siyasah as-Syar'iyyah adalah perbuatan-perbuatan yang membawa manusia lebih dekat pada kebaikan dan jauh dari kerusakan, kendati keterangan tentangnya tidak disyariatkan oleh Rasulullah SAW dan tidak pula diturunkan melalui wahyu" Ibnu Nujaim al-Hanafi (w. 1005) menyatakan as-Siyasah as Syar'iyyah, adalah, "melakukan sesuatu yang bersumber dari seorang pemimpin untuk sebuah maslahat yang ia pandang baik, kendati dalam perbuatannya itu tidak terdapat padanya dalil syar'I yang sifatnya parsial". Keberadaan suatu negara sangatlah menentukan suatu peradaban untuk suatu bangsa tertentu, dikarenakan negaralah yang akan memfasilitasi dan melindungi serta mengangkat derajat orang-orang yang berada dibawah kekuasaannya. Dalam bukunya, Ibnu Khaldun (1332-1406) diakui otoritasnya baik sebagai pemikir tentang negara maupun sebagai ahli sejarah dan peletak dasar sosiologi. Bahkan sampai sekarang para sarjana Barat mengangumi hasil-hasil pemikirannya. Ia telah menulis dua buku yang berjudul (1) Kitab al-'Ibar (kitab ibara-ibarat) dan (2) Muqaddimah (pengantar). Dalam bukunya yang berjudul Muqaddimah itulah ia merumuskan teorinya tentang negara. Ibnu Khaldun menemukan suatu tipologi negara dengan tolak ukur kekuasaan. Ia membagi negara menjadi dua kelompok yaitu (1) negara dengan ciri kekuasaan alamiah ( mulk'tabi'i), dan (2) negara dengan ciri kekuasaan politik (mulk siyasi). Tipe negara yang pertama ditandai oleh kekuasaan yang sewenang-wenang (depotisme) dan cenderung kepada "hukum rimba". Di sini keunggulan dan kekuatan sangat berperan. Kecuali itu prinsip keadilan diabaikan. Ia mengkaulifisir negara yang semacam ini sebagai negara yang tidak berperadaban. Tipe negara yang kedua dibaginya menjadi tiga macam yaitu (1) negara hukum atau nomokrasi Islam (siyasah diniyah), (2) negara hukum sekuler (siyasah 'aqliyah), dan (3) negara ala "republic Plato" (siyasah madaniyah). Diantara Tujuan Utama Di Berlakukannya Pemerintahan Berdasarkan Agama Adalah A.Iqamatuddin (Menegakkan Agama) Yang dimaksud agama adalah agama kebenaran, yaitu agama Islam. Inilah tujuan pertama dan yang paling utama, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Himam, "Tujuan pertama imamah adalah menegakkan agama. Maksudnya, menjadikan agama sebagai syiar nyata sebagaimana diperintahkan, seperti ikhlas dalam menjalankan ketaatan, menghidupkan As-Sunnah, dan mematikan Bid'ah, agar seluruh hamba melaksanakan ketaatan kepada Allah." B.Menata Dunia Dengan Agama, atau Mengatur Semua Persoalan Kehidupan Dengan Hukum Yang Diturunkan Allah Tujuan Imamah yang kedua ialah menata dunia dengan agama, atau menata kehidupan ini dengan hukum yang diturunkan Allah Subhanahu Wata'ala. Penegakan hudud dan hukuman jelas merupakan bagian dari memutuskan perkara dengan hukum yang diturunkan Allah, namun bukan satu-satunya, karena yang dimaksud dengan memutuskan perkara dengan hukum yang diturunkan Allah adalah menata dan mengatur seluruh persolan hidup sesuai kaidah, prinsip dan hukum-hukum syariat yang tertera secara nash atau disimpulkan dari nash-nash yang ada sesuai kaidah ijtihad yang tepat. Dan Adapun Sub-sub Tujuan Diberlakannya Pemerintahan Berdasarkan Agama Adalah: 1. Menyebarkan keadilan dan Menghapus Kezaliman Ini merupakan salah satu tujuan penting dan tuntutan tertinggi yang diperintahkan Islam untuk diterapkan. Islam bukannya membebankan perintah ini kepada para penguasa saja, tetapi juga kepada semua orang agar berlaku adil dalam segalaurusan yang ia lakukan, baik berkaitan dengan keluarga, tetangga, maupun yang lain "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia member pengajaran kepadamu agar kamu mendapat pengajaran". (An-Nahl: 90).

2.Mempersatukan dan Tidak Memecah Belah

Tujuan dan maksud dari imamah lainnya adalah mempersatukan barisan kaum muslimin dan tidak memecah belah. Langkah ini hanya bisa diakukan di bawah satu komando " Sungguh, (agama tauhid) inilah agama kamu, agama yang satu, dan Aku adalah tuhanmu, maka sembahlah Aku". (Al-Anbiya'). 3.Memakmurkan Bumi dan Memamfaatkan Kekayaan Alam Untuk Kepentingan Islam dan Kaum Muslimin Termasuk tujuan imamah dan wujud nyata menata dunia dengan agama adalah memakmurkan bumi di mana Allah menjadikan kita sebagai pemakmurnya "Dia telah menciptakan dari bumi (tanah)dan menjadikanmu pemakmurnya…" (Hud:61). Betapa pentingnya agama dalam suatu negara, sehingga tidak akan pernah kita jumpai suatu peradaban besar pun yang pernah terjadi di muka bumi ini terkecuali dimiliki oleh negara yang berlandaskan agama sebagai pondasi negara, sehingga norma agama, norma kesopanan, norma kesopanan, norma susila dan norma hukum. Yang ,enghasilkan kemakmuran dan keadilan yang bermuara kepada kesejahteraan umum.

*Penulis saat ini menempuh pendidikan Pasca Sarjana Fakultas Hukum Univesitas Islam Riau Dengan fokus Jurusan Ilmu Hukum. (RB/yopi)

Follow News : Riau | Kampar | Siak | Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul | Berita Riau

Share ke BBM

100000000
Redaksi

Berita Terkini

Mengapa Batik

Sabtu, 20 Januari 2018 - 08:44 WIB

13 Catatan untuk Prof Mahfud MD

Sabtu, 20 Januari 2018 - 08:27 WIB

Politik Pilgub Riau Patah Tebu

Selasa, 09 Januari 2018 - 18:05 WIB

Catatan Ustadz Abdul Somad: Belajar Dari Al-Fatih

Senin, 08 Januari 2018 - 10:01 WIB

Budaya dan Agama

Minggu, 07 Januari 2018 - 11:28 WIB

Gerindra dan Kuda Poni

Minggu, 07 Januari 2018 - 10:39 WIB

5 Tipe Pemilih dalam Pilkada, Jangan Jadi Nomor 5 yaa..

Sabtu, 06 Januari 2018 - 12:10 WIB

Ancaman 'Kuda Hitam' dan 'Head to Head' Pilgub Riau

Kamis, 04 Januari 2018 - 13:01 WIB

Ustadz Abdul Somad, The Phenomenon

Jumat, 31 Desember 2010 - 23:58 WIB

Intoleransi Toleransi

Sabtu, 30 Desember 2017 - 23:08 WIB

Abdul Somad, Alternatif Baru untuk Calon Pemimpin Riau

Jumat, 29 Desember 2017 - 23:33 WIB
Opini:

Dimulai Dari yang Kecil

Jumat, 29 Desember 2017 - 16:59 WIB

Persatuan Bangsa-Bangsa Dalam Perspektif Psikologi Hukum

Selasa, 26 Desember 2017 - 23:48 WIB

Gubri Ideal

Minggu, 24 Desember 2017 - 01:32 WIB

Para Pembebek Nabi

Minggu, 24 Desember 2017 - 21:33 WIB
Opini:

LGBT Itu Penyimpangan Fitrah

Kamis, 21 Desember 2017 - 18:18 WIB
Opini:

Membaca Arah Penguasa Zaman Now

Kamis, 21 Desember 2017 - 10:31 WIB
Opini:

Toleransi Muslim Terhadap Hari Raya Ummat Lain

Kamis, 21 Desember 2017 - 09:37 WIB

Ramalan Shio untuk Karir Masa Depan

Kamis, 21 Desember 2017 - 07:46 WIB
Opini:

Anti-LGBT Itu Alami

Rabu, 20 Desember 2017 - 23:57 WIB
Opini:

Narasi Tanpa Orasi

Rabu, 20 Desember 2017 - 23:38 WIB
Opini:

Andi Rachman Berpotensi Menang Pilgubri 2018

Rabu, 20 Desember 2017 - 11:36 WIB
Opini:

PDIP Untung, Andi Rachman Rugi

Rabu, 20 Desember 2017 - 11:16 WIB
Opini Fahri Hamzah:

The Real People Power

Senin, 18 Desember 2017 - 23:41 WIB
Opini:

Aksi Cuma Omong Doang

Senin, 18 Desember 2017 - 21:38 WIB
Tausyiah Ustad Felix Siauw

Al-Aqsha di Hatimu

Senin, 18 Desember 2017 - 20:57 WIB

Baca Garis Tangan, Konon Katanya Menentukan Masa Depan

Minggu, 17 Desember 2017 - 23:30 WIB
Dunia Islam:

Bela Al-Aqsha

Jumat, 15 Desember 2017 - 23:48 WIB
Opini:

Polemik Putusan MK

Jumat, 15 Desember 2017 - 23:31 WIB
Opini:

Tuntaskan Kasus Begal Sekarang Juga

Jumat, 15 Desember 2017 - 00:19 WIB

Cari Judul Berita

Populer



hut kota dumai riauboook

Galeri Pemkab Siak

galeri menanam padi siak


Galeri Riau Pustaka Lingkungan Dunia



Banner

Socialize